HomeMitra UKMPemetaan dan Strategi Peningkatan Daya Saing UMKM dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (2015) dan Pasca MEA 2025

Pemetaan dan Strategi Peningkatan Daya Saing UMKM dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (2015) dan Pasca MEA 2025

Share
Ringkasan Eksekutif
 
Pemetaan dan Strategi Peningkatan Daya Saing dalam Menghadapi MEA 2015 dan Pasca MEA 2025
Pengembangan UMKM merupakan bagian yang terintegrasi dalam penyatuan ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN. Berdasarkan Cetak Biru Pengembangan UKM di ASEAN, ASEAN SME Blue Print2004-2014 dan ASEAN Strategic Action Plan for SME Development 2010 – 2015 merupakan kerangka kerjasama dan rencana aksi untuk mengembangkan UMKM ASEAN yang berdaya saing, dinamis dan inovatif.
Kajian ini dilaksanakan dalam rangka mengetahui posisi daya saing UMKM Indonesia dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya dan menyusun strategi peningkatan daya saing UMKM Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Berdasarkan data-data yang tersedia, dapat disimpulkan beberapa hal:
1.  UMKM merupakan pelaku ekonomi yang penting dalam menyerap tenaga kerja di ASEAN.
2.  Meskipun UMKM termasuk di dalamnya usaha skala mikro mencakup 96% dari keseluruhan usaha di negara-negara ASEAN, kontribusinya dalam pembentukan nilai tambah masih terbatas, UMKM berkontribusi sebesar 42% dari total PDB negara-negara ASEAN.
3.  Secara umum, kontribusi UMKM ASEAN terhadap nilai ekspor dan jaringan produksi global dan regional (Global Value Chain) lebih rendah daripada perusahaan besar ASEAN.
4.  Secara umum, kinerja UMKM Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara ASEAN dengan tingkat pembangungan yang relatif sama, terutama dari segi produktivitas, kontribusi ekspor, partisipasi untuk produksi global dan regional serta kontribusi terhadap nilai tambah.
Beberapa studi terdahulu mengenai faktor yang mempengaruhi kemampuan UMKM:
1.  Nicolescu (2009) menunjukkan kemampuan UMKM untuk dapat bertahan dan tumbuh tergantung dari faktor internal yang mempengaruhi produktivitas dan inovasi perusahaan serta faktor eksternal.
2.  Wignaraja (2012) dan Presisi(2014) menunjukkan secara umum partisipasi UMKM dalam Global Value Chain (GVC) masih rendah karena keterbatasan sumber daya seperti keuangan, informasi, kapasitas manajemen dan teknologi serta akses terhadap informasi pasar (Wignaraja, 2012).
3.  Harvie, Nardjoko & Oum (2010) menyebutkan yang dapat meningkatkan partisipasi dalam GVC adalah skala dan kematangan usaha, foreign linkage, produktivitas, inovasi dan akses pembiayaan.
Tidak hanya partisipasi UMKM dan perdagangan besar dalam GVC yang rendah, hasil studi Presisi pada tahun 2014 juga menunjukkan rendahnya partisipasi Indonesia dalam GVC dibandingkan Negara ASEAN lainnya pada indikator perdagangan mesin dan komponen. Hal ini disebabkan oleh faktor pendukung GVC yang belum optimal, yaitu infrastruktur dan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi, kehandalan dan efisiensi jasa logistik, tingginya hambatan perdagangan, tingkat upah yang relatif tinggi dibandingkan negara ASEAN serta ketatnya persyaratan dalam akses pembiayaan perbankan. Selain itu, pelaku usaha di Indonesia mengalami kesulitan memenuhi standar produk internasional karena adanya kesulitan perolehanbahan baku lokal yang sesuai dengan permintaan konsumen global.
Secara spesifik, beberapa hal yang perlu dibenahi untuk meningkatkan daya saing UMKM adalah:
1.    Produktivitas dan Inovasi
Peningkatan produktivitas dilakukan dengan perbaikan tingkat pendidikan dan keahlian manajerial.
2.    Kemudahan Berusaha (Ease of Doing Business)
Pemerintah telah memberikan kemudahan pengurusan perizinan bagi UMKM dan pembebasan biaya. Usaha lainnya adalah pembebasan UMKM dari pajak penghasilan selama 2 tahun pertama dan memberikan fasilitasi akses terhadap jasa konsultan pajak murah.
3.    Akses Permodalan (Access to Finance)
Pemerintah mempunyai program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendorong penyaluran kredit UMKM yang dijamin tanpa mempersyaratkan agunan tambahan dengan tingkat bunga disubsidi sebesar 12% per tahun. Selain itu, pemerintah melalui LPEI memberikan kredit ekspor bagi UMKM dengan persyaratan minimal 50 tenaga kerja.
4.    Akses Pasar
Dengan melakukan program yang mendukung aspek pemasaran UMKM di pasar domestik dan  program promosi ekspor dengan cara pandang yang lebih berorientasi pada pasar global.
5.    Dukungan Infrastruktur.
Perbaikan dan pembangunan infrastruktur baru saat ini telah menjadi fokus pemerintah Indonesia,dan diperkirakan akan berdampak positif terhadap pertumbuhan bisnis di Indonesia.
6.    Siklus Bisnis
Dampak krisis finansial menyebabkan turunnya permintaan global idealnya dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan keahlian pelaku UMKM sehingga pada saat permintaan mulai naik, UMKM Indonesia telah memiliki daya saing yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *